10 Jawaban Atas Kesintingan Arsitektur Finansial Global Share
Disclaimer: Seperti kata Coen, ini bisa dijalankan kalau ada pemimpin visioner yang berkuasa dan mau menerapkan :-)
-----------------------------
10 Jawaban Atas Kesintingan Arsitektur Finansial Global
1. Kembalikan Hak Memproduksi Uang pada Pemerintah sebagai Representasi Negara
Independensi bank sentral sering digembar-gemborkan sebagai sebuah upaya penting untuk menjauhkan intervensi pemerintah dalam hal pengaturan dan produksi uang atau money creating process. Padahal faktanya, bank sentral malah mengabdi pada aturan-aturan dari Bank for International Settlement (BIS) yang disetir bank-bank besar di Wall Street. Arsitektur Perbankan Indonesia serta pedoman Basel II dengan berbagai persyaratannya yang ketat pada akhirnya hanya melayani kepentingan bank-bank asing yang makin lama makin menguasai peta perbankan nasional. Lebih baik, bank sentral berada di bawah kendali pemerintah bersama-sama dengan Dewan Moneter Nasional yang bekerja secara transparan dan akuntabel.
2. Uang yang Diproduksi Harus Ditopang oleh Aset Riil (Bukannya Hutang)
Saat ini uang yang diproduksi oleh bank sentral memiliki penopang atau underlying berupa surat-surat hutang yang nilainya sangat sulit diukur. Bahkan dalam situasi krisis seperti sekarang bisa jadi kertas belaka. Akibatnya, kurs mata uang seperti rupiah terhadap dolar AS misalnya, bisa bergerak bagai roller-coaster dan hanya menguntungkan para spekulan kelas kakap yang memang suka berjudi dengan memanfaatkan selisih kurs. Satu-satunya cara menstabilkan kembali nilai mata uang – juga sebagai upaya untuk menetapkan standar nilai tukar internasional – adalah dengan menopang produksi uang dengan aset riil berupa gabungan berbagai komoditas (basket commodities). Mirip dengan menopang nilai uang dengan emas di masa Bretton Woods dulu, tapi bedanya penopangnya bukan cuma satu jenis komoditas, yaitu emas. Melainkan bisa memilih di antara berbagai komoditas seperti emas, perak, timah, batubara dan sebagainya, yang harga pasarnya secara internasional telah terbentuk. Buat Indonesia sebagai negara yang kaya komoditas sistem ini akan sangat menguntungkan dan membebaskan kita dari hutang luar negeri. Siapapun yang memegang mata uang ini akan dengan mudah menukarkan mata uangnya melalui berbagai macam pasar komoditas dunia.
3. Bank Sentral adalah Pendukung Kebijakan Fiskal Pemerintah
Bank sentral tetap akan memainkan peranan penting sebagai pihak yang memiliki otoritas untuk memproduksi uang – meskipun tidak lagi berada di luar jangkauan pemerintah. Bank sentral juga tidak boleh lagi menjadi "negara di dalam negara" tetapi justru harus membantu program peningkatan kesejahteraan yang dijalankan pemerintah. Tidak seperti selama ini, bank sentral "meminjamkan" uang pada pemerintah dengan jaminan surat-surat hutang negara, yang menyebabkan hutang-hutang pemerintah makin lama makin besar dan bahkan secara matematis tidak bisa terbayarkan – karena hutang pemerintah tersebut harus dikembalikan dengan tambahan beban bunga yang tidak pernah diproduksi oleh bank sentral.
4. Bank Konvensional Dilarang Memberi Kredit Lebih Besar Dari Cadangan Yang Dimilikinya
Sistem cadangan fraksional atau fractional reserve system telah menyebabkan sistem perbankan secara inheren menjadi tidak stabil, karena bank boleh meminjamkan kredit jauh lebih besar dari cadangan uang yang mereka miliki. Ini sebetulnya gambaran dari praktek "lebih besar pasak daripada tiang" atau Ponzi Scheme, malah boleh dibilang bank telah melakukan kegiatan "pemalsuan uang". Hak "memalsukan uang" secara legal ini harus dicabut. Dengan begitu krisis perbankan yang penyebabnya hampir selalu sama – yaitu kebangkrutan karena pemilik dana di bank ramai-ramai menarik asetnya serta hutang-hutang perbankan yang kelewat besar – tidak lagi terus berulang. Bank akan berfungsi sebagaimana yang dibayangkan oleh kebanyakan awam saat ini, yaitu layaknya lembaga simpan-pinjam. Keuntungan bank akan didapatkan dari fee yang didapatkannya atas jasa simpan-pinjam yang ia lakukan.
5. Uang Mesti Dialirkan Langsung Pada Perekonomian Riil
Dalam sistem yang berlaku sekarang, yaitu uang diproduksi dari topangan hutang (baca: surat hutang negara) plus bunga, para pemilik uang secara natural akan lebih terdorong untuk mencari tempat-tempat investasi yang bisa memberikan bunga yang lebih tinggi lagi. Tujuannya tak lain supaya bisa membayar kembali hutang tadi. Akibatnya, uang lebih banyak mengalir ke sektor finansial ketimbang sektor riil. Dampak lebih jauhnya adalah, sektor riil yang melibatkan lebih banyak populasi masyarakat harus berebut uang yang jumlahnya terbatas. Sementara di sektor finansial, yang jumlah populasi atau investor yang terlibat hanya sedikit, memiliki peredaran uang yang lebih tinggi. Jika semakin banyak uang terserap dari sektor riil ke finansial, dalam jangka panjang akan terjadi "pemiskinan" secara massal. Oleh karena itu, solusinya bagi pemerintah adalah memastikan lebih banyak uang beredar di sektor riil ketimbang finansial.
6. Insentif Moneter terhadap Perang Harus Diakhiri
Seruan anti-perang tidak akan lebih efektif jika diikuti dengan menghilangkan insentif moneternya. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, penopang atau underlying bagi bank sentral untuk memproduksi uang adalah surat hutang yang dikeluarkan pemerintah. Selanjutnya, surat hutang tersebut dapat diperjualbelikan dan dijadikan aset oleh perbankan untuk kembali "memalsukan uang" melalui mekanisme fractional reserve system. Kalau pemerintah banyak mengeluarkan surat hutang (baca: berhutang), maka semakin banyak juga asset-aset yang dapat digandakan oleh bank. Pada saat terjadi perang, tentu semakin besar pula surat hutang yang akan dikeluarkan pemerintah. Singkatnya, perang sebetulnya "menguntungkan" bagi bank (karena bisa "menggandakan" lebih banyak uang). Dengan menghilangkan sistem cadangan fraksional atau fractional reserve system sekaligus menopang mata uang dengan gabungan berbagai macam komoditas, dengan sendirinya insentif terhadap perang telah berkurang secara sangat signifikan.
7. Kenakan Biaya pada Pemegang Uang, Agar Insentif untuk Mengakumulasi Modal Hilang Dengan Sendirinya
Dalam sistem yang sekarang berlaku, orang yang memiliki banyak uang tanpa perlu bekerja keras bisa "memutar-mutar" uangnya dalam berbagai instrumen investasi dan bisa menjadi kaya karena mengakumulasi modal. Sementara orang yang setiap hari bekerja keras, jika kalah dalam pertarungan mengakumulasi modal, akan terus-menerus miskin. Dengan mengenakan biaya bagi pemegang uang atau memberikan negative-interest rate, misalnya 2% per bulan, secara otomatis orang-orang akan enggan untuk berlama-lama memegang uang. Mereka akan memilih membelanjakan uang dengan cepat dan membeli barang-barang yang tahan lama atau berkualitas tinggi ketimbang menyimpan atau mengakumulasinya. Hal ini tentu akan bermanfaat besar bagi perekonomian. Sirkulasi uang yang cepat ini akan menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan. Lebih dari itu, setiap orang akan dihargai karena produktivitas serta kualitas individunya (yang dinilai dari berbagai aset berharga maupun pemikiran maupun karya-karyanya), bukan karena kuantitas uang yang dimilikinya. Konsep negative-interest rate atau demurrage ini sudah pernah dipraktekkan di Worgl, Austria tahun 1932 serta selama ribuan tahun di masa Mesir Kuno. Sayangnya, praktek ini tidak berlanjut karena campur tangan para pemilik bank serta mereka yang diuntungkan dari kebiasaan "membungakan" uang.
8. Ketergantungan Berbagai Negara atas Hutang harus Dimulai dengan Mendirikan Lembaga-Lembaga Keuangan Dunia yang Baru
Bukan rahasia lagi, lembaga-lembaga keuangan dunia seperti Bank Dunia dan IMF senantiasa membawa kepentingan negara-negara industri besar untuk menaklukkan negara-negara berkembang yang kaya akan komoditas melalui senjata "hutang bersyarat". Yaitu, dengan memaksakan Structural Adjustment Program (SAP) yang intinya membuka lebar-lebar pasar domestik negara pengutang, mencabut subsidi serta membiarkan aset-aset berharganya dikuasai pihak asing. Oleh karena itu, di masa krisis global yang sedang berlangsung sekarang ini, perlu segera mempersiapkan lembaga-lembaga keuangan alternatif yang bertujuan untuk membangun independensi dan kesejahteraan dari masing-masing anggotanya. Dunia baru membutuhkan berbagai institusi finansial baru.
9. Insentif Moneter terhadap Pengrusakan Lingkungan Harus Dihilangkan
Dengan mengenakan biaya pada mata uang (lihat poin nomor 7), maka dengan sendirinya orang akan lebih suka membelanjakan uangnya ketimbang mengakumulasinya. Sesungguhnya, hal ini juga memiliki dampak positif terhadap prilaku manusia terhadap lingkungan. Sebab, insentif terhadap pola berpikir jangka pendek untuk mendapatkan uang dengan cepat telah dihilangkan dengan cara ini. Sebagai contoh, orang yang tadinya menebang hutan secara membabi buta untuk mendapatkan uang segera akan berpikir panjang untuk mengulangi hal itu. Lebih baik baginya, untuk melestarikan lingkungan atau menanam aneka macam pohon agar kelak bisa memberikan hasil keuntungan yang kontinyu dalam jangka panjang. Jika semua pohon ditebang saat ini, ia mungkin bisa mendapatkan uang banyak. Tapi, uang itu akan segera tergerus nilainya karena terkena biaya tadi.
10. Bebaskan Manusia untuk Menciptakan Berbagai Alternatif Alat Tukarnya Sendiri
Berbagai jenis alat tukar alternatif saat ini, sesungguhnya telah diterapkan di berbagai komunitas dan ternyata terbukti mampu menyelamatkan komunitas-komunitas ini ketika terjadi krisis mata uang konvensionalnya (studi-studi tentang hal ini dapat dilihat dalam www.transaction.net). Masa krisis global sekarang ini, adalah waktu yang paling tepat untuk "mendemokratisasi" penggunaan mata uang. Uang bukanlah monopoli kaum elit atau pemilik bank semata. Uang adalah alat tukar yang seharusnya mendorong kerjasama dan meningkatkan kesejahteraan umat manusia.***
Oleh:
Wandy Nicodemus Tuturoong






